Pulau Jawa, dengan populasi terpadat di Indonesia, juga memiliki potensi besar untuk pengembangan energi terbarukan, salah satunya melalui pemanfaatan panel surya. Sumber daya matahari yang melimpah sepanjang tahun menjadikan banyak kota di Jawa sebagai wilayah strategis untuk mengoptimalkan energi surya. Namun, dari sekian banyak kota, ada tiga yang memiliki potensi pemanfaatan panel surya terbesar. Penasaran kota mana saja yang siap menjadi pusat inovasi energi hijau di Pulau Jawa? Ayo simak lebih lanjut!
Ingin tahu apa itu panel surya? Klik di sini.
1. Surabaya


Surabaya, sebagai salah satu kota besar di Pulau Jawa, tidak hanya terkenal karena kemajuan teknologinya seperti Suroboyo Bus dan transisi menuju sistem pembayaran online, tetapi juga karena suhu udaranya yang sangat tinggi. Dengan suhu yang pernah mencapai 42°C pada 6 Oktober 2023 dan rata-rata harian di atas 35°C, Surabaya memiliki potensi besar dalam pemanfaatan panel surya. Kondisi iklim yang panas ini memungkinkan energi matahari terkonversi secara maksimal menjadi energi listrik.
Berada di wilayah tropis dengan rata-rata radiasi matahari sebesar 5,29 kWh/m² per hari, Surabaya menjadi kota yang sangat ideal di Pulau Jawa untuk pemanfaatan panel surya. Selain itu, beberapa proyek besar telah terlaksana, termasuk pemasangan panel surya di fasilitas publik seperti Rumah Sakit Bhayangkara dan Pasar Rungkut, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Terminal Purabaya dengan kapasitas 3,3 megawatt. Sebagai contoh, SMA Negeri 5 Surabaya juga memiliki PLTS yang menghasilkan 58,4 MWh per tahun. Hal ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia untuk skala sekolah.
2. Semarang
Mengutip dari Studi Ilmiah Setrum berjudul Analisis Potensi Energi Sinar Matahari dan Energi Angin di Pusat Kota Semarang, Semarang memiliki potensi besar dalam pemanfaatan panel surya. Berdasarkan studi yang dilakukan selama satu bulan pada tahun 2018, kota ini menerima rata-rata radiasi matahari sebesar 5,4 kWh per hari. Dengan waktu efektif pencahayaan matahari sekitar 7,5 jam dan waktu optimal 3,6 jam setiap harinya, Semarang menjadi salah satu kota yang cocok di Pulau Jawa untuk instalasi panel surya. Dalam jangka waktu tersebut, panel surya mampu menghasilkan listrik secara efisien, mendekati kapasitas maksimalnya.
Beberapa inisiatif energi terbarukan di Semarang telah terlaksana, termasuk penggunaan panel surya di sektor publik dan swasta. Meski investasi awal untuk panel surya tidak kecil, potensi penghematan energi yang signifikan membuat kota ini berpotensi menjadi pelopor pemanfaatan energi surya di Pulau Jawa.
3. Bandung


Mengutip Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Surya Bayu di Kota Bandung, Kota ini memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi surya, terutama di daerah Gedebage, di mana radiasi matahari rata-rata mencapai 5,680 kWh/m² per hari. Potensi ini menjadikan Bandung sangat ideal untuk pemasangan panel surya sebagai bagian dari solusi energi terbarukan. Dalam studi kelayakan, penggunaan panel surya di Bandung berkontribusi sekitar 20,8% dari total energi yang dihasilkan sistem hybrid. Dengan rata-rata energi yang dihasilkan oleh panel surya sebesar 532 kWh per tahun per unit, Bandung dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan listrik rumah tangga dan fasilitas umum di daerah tersebut.
Dengan kombinasi sistem hybrid antara energi angin dan surya, Bandung mampu memanfaatkan kondisi alamnya untuk menciptakan pembangkit listrik yang berkelanjutan. Sistem ini menjanjikan pemanfaatan energi yang optimal di Pulau Jawa. Hal ini menjadikan Bandung sebagai kota yang memanfaatkan potensi panel surya secara efisien.
Simpulan
Surabaya, Semarang, dan Bandung memiliki potensi besar dalam pemanfaatan panel surya di Pulau Jawa. Dengan radiasi matahari yang tinggi, ketiga kota ini sangat cocok untuk pengembangan energi terbarukan. Implementasi panel surya di berbagai proyek menunjukkan kemajuan dalam memanfaatkan energi bersih dan berkelanjutan. Hal ini menjadikan mereka pionir dalam energi terbarukan di Indonesia.







